Minggu, 28 Januari 2018

Mengenal Perbedaan Anak Yang Aktif Atau Hiperaktif

Mengenal Perbedaan Anak Yang Aktif Atau Hiperaktif. Ciri ciri anak aktif dan hyperaktif. Apakah Anda merasa khawatir jika buah hati tercinta karena perilaku atau kelakuannya sangat aktif?Hal Hal Apa saja yang perlu kita ingat agar dapat menghindari vonis dengan menyebutnya sebagai kelakuan yang hyperaktif.Namun tahukah anda Menghakiminya dengan sebutan anak aktif dan hiperaktif sangatlah jauh berbeda. Mari Simak Penjelasannya Berikut ini.Aktif dan hiperaktif itu berbeda jika memiliki mobilitas tinggi Senang mengeksplorasi apa saja namun tindakannya positif dan terstruktur. Artinya anak menunjukkan minat tinggi dan berusaha menyelesaikan apa yang dimulainya.

Apa yang dikerjakannya selalu memiliki tujuan dan menunjukkan hasil nyata. Kalau main balok susun contohnya ia mampu membuat bangun tertentu yang merupakan kreasi berdasarkan hasil imajinasinya. Yang menggembirakan anak aktif yang bukan hiperaktif biasanya memiliki kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir jauh lebih tinggi dibanding anak normal yang sebaya dengannya. Daya imajinasi juga tinggi begitu pula kemampuan visualisasinya. Kemampuan motorik halus maupun motorik kasarnya sama-sama berkembang sebagaimana mestinya.

Daya tangkap yang di atas rata-rata membuat anak aktif bisa cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ia amat kritis dan tidak menunjukkan sikap malu malu. Namun saat diminta untuk duduk tenang atau melakukan hal-hal normatif alias berdasarkan aturan umum yang berlaku ia akan segera menaatinya. Kendati biasa aktif ya bisa memosisikan dirinya di manapun berada mengingat kemampuannya memilah-milah amat bagus. Dalam pergaulan siaktif terkenal responsif hingga ia bisa tampil luwes  dan tidak kaku dalam berinteraksi dengan orang lain.


Kenali si hiperaktif

Berbeda dari anak aktif anak hiperaktif umumnya melakukan berbagai aktivitas hanya dengan mengandalkan motorik kasar. Anak hiperaktif selalu gelisah dan tidak bisa tenang. Apa saja yang dilakukannya cenderung tidak terstruktur. Tak heran kalau dalam hitungan menit dia sudah berganti aktivitas karena bosan tanpa memperlihatkan hasil apapun. Aktivitas yang semula dilakukan ditinggalkannya begitu saja karena ia hanya ingin mengerahkan energinya yang berlebih tanpa intensi tertentu. Hiperaktif merupakan bentuk gangguan pada anak yang mesti dicermati orang tua karena perlu ditangani Semestinya.

Kalau anak aktif cenderung memiliki berbagai kemampuan diatas rata-rata dan tak mengalami keterlambatan atau gangguan apapun anak hiperaktif justru sebaliknya. Ada sederet kekurangan sebagai gejala yang menyertai hiperaktivitas. Antara lain rendahnya kemampuan si anak untuk beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuannya mengikuti aturan yang berlaku juga tidak terlalu baik karena kontrol dirinya tergolong rendah. Tak heran kalau kita jadi gampang tersulut emosi saat mengingatkannya untuk sejenak duduk manis Selain itu anak hiperaktif hampir selalu tidak tuntas mengerjakan kewajibannya.

Mereka seringkali mengalami gangguan komunikasi dan perkembangan motorik halus. Ia akan kesulitan belajar karena kemampuan menggambar membaca dan menulis nya tidak bagus. Selain itu kemampuan sensorik yang tidak berkembang membuat anak hiperaktif secara keseluruhan benar-benar tidak terarah. Ia cenderung menghindari tugas selalu gelisah hobi jalan-jalan di kelas gemar mengganggu teman dan lain-lain. Kalau anak konsisten memperlihatkan perilaku yang sama baik di rumah di sekolah maupun di tempat umum sebaiknya orangtua segera mencari bantuan pada pakarnya baik di sekolah dokter anak ataupun gabungan keduanya.

Untuk memastikan Apakah seorang anak hiperaktif atau bukan paling tidak butuh waktu 6 bulan untuk mengobservasi. Pantau perkembangan sejak bayi Apakah melalui tahapan merangkak (yang terkait dengan kemampuan sensorik dan keseimbangan) atau tidak. Cermati juga Bagaimana perkembangan bicaranya terlambat atau tidak. Kalau anak tidak melalui tahapan merangkak dan perkembangan bicaranya juga terlambat besar kemungkinan si anak memang mengarah pada hiperaktivitas. Sayangnya meski gejala awal hiperaktif sudah muncul di usia dini biasanya orang tua baru sadar ada yang tak beres dengan anaknya saat si anak sudah sekolah.

Dampak buruk 

Berdasarkan gambaran perbedaan-perbedaan yang telah dibahas sebelumnya, para orang tua maupun guru untuk bijaksana sekaligus hati-hati dalam jangan sampai melevel anak aktif dengan sebutan hiperaktif. Pelabelan Salah kaprah ini secara psikologis anak berdampak buruk dan merugikan anak aktif yang bukan hiperaktif. Anak pasti merasa tidak nyaman apalagi pengucapannya biasanya disertai dengan nada tinggi. Sayangnya lantaran anak umumnya sebelum bisa mengekspresikan ketidaknyamanannya biasanya Ia hanya menginternalisasi level yang membuatnya pasif dan menarik diri atau mengalami regresi alias kemunduran.

Contohnya anak umur 6 sampai 7 tahun yang tadinya sudah Mandiri dan tidak ngompol mendadak ngompol kembali dan minta diperlakukan seperti bayi. Dampak buruknya bisa juga dalam bentuk pemberontakan. Ah karena Ibu guru bilang aku anak nakal yang gak bisa diam sekalian aja aku begitu! Jadilah si anak hobi mengganggu adeknya upil pada temannya ngomong kasar dan mencoba-coba sesuatu yang berbahaya.

Aktivitas penunjang

Jika si kecil termasuk anak aktif yang bukan hiperaktif orang tua sebaiknya menyediakan sarana dan serangkaian kegiatan positif agar daya imajinatif anak bisa lebih terarah. Di luar sekolah ikut kan anak pada kegiatan olahraga seni atau sejenisnya. Selain kemampuannya makin terasah, kesempatan untuk tampil pasti akan menambah keberanian dan rasa percaya diri. Di sinilah pentingnya orang tua bersikap responsif dalam mendampingi dan mengimbangi keaktifan anak. Ingatlah selalu bahwa hati masih membutuhkan pendampingan.

Psikologis dan kenyamanan dari orang tua. Kalaupun orang tua mampu menyediakan fasilitas lengkap namun tidak hadir mendampingi tetap saja anak merasa kosong. Pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah sekolah apa yang paling cocok untuk si aktif. Untuk ini kembalikan pada anak. Orang tua harus peka membaca kebutuhannya. Libatkan anak saat mencari sekolah. Tidak semua sekolah memiliki sarana yang mampu mengakomodasi kebutuhan anak aktif tapi setidaknya carilah yang kriterianya mendekati.

Contohnya sekolah yang tak menuntut anak selalu duduk manis. Atau sekolah yang tidak mendewa-dewakan ranking dengan mengharuskan anak saling berlomba mengejar nilai 100. Orang tua juga harus memantau perkembangan anak dari hari ke hari. Begitu juga dengan pilihan kegiatan non formal. Ikut kan anak ke berbagai kursus dengan melihat minat dan kebutuhannya bukan mengutamakan gengsi orang tua. Pertama berikan pilihan pada anak. Begitu ia bisa mencerna bantu anak untuk membuat keputusan.

Kemudian minta dia berkomitmen terhadap pilihannya. Arahkan anak untuk memilih kegiatannya yang memungkinkannya menyalurkan potensi minat dan energi berlebih. Dengan demikian kehidupan anak jadi lebih seimbang karena bukan hanya otak kiri yang distimulasi melalui proses belajar di sekolah. Otak kanan punker stimulasi hingga kemampuan anak untuk memecahkan masalah juga ikut berkembang. Nantinya anak mampu mengantisipasi masalah dengan baik tak mudah cemas dan tak mudah menyerah.


EmoticonEmoticon